Selasa, 05 Maret 2013

MAKALAH HUBUNGAN TASAWUF DENGAN FILSAFAT, ILMU KALAM DAN PSIKOLOGI AGAMA

KERANGKA BERFIKIR IRFANI :DASAR-DASAR FILOSOFI AHWAL DAN MAQOMAT,HUBUNGAN TASAWUF, ILMU KALAM DAN FILSAFAT SERTA HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU JIWA AGAMA (TRANSPERSONAL PSIKOLOGI)
Di Ajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Ilmu tasawuf 1
Dosen pengampu : Dr. H. Ahmad Asmuni, MA


Disusun oleh :
Ahmad Agus Tijani


AKIDAH FILSAFAT
ADDIN (ADAB DAKWAH DAN USULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN AKADEMIK 2012/2013
BAB I. PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Istilah "tasawuf" yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian atau bersih. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci.
Tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana orang Islam dapat sedekat mungkin dengan Allah agar memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, mempunyai hubungan dengan filsafat, ilmu kalam, dan ilmu jiwa agama. Semua ilmu tersebut saling berkaitan satu sama lain yang menetukan bagaimana sebuah akhlak yang dihasilkan dari keterkaitan tersebut.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini akan sedikit membahas tentang beberapa hal yang berkaitan dengan tasawuf, diantaranya :
1.      Pengertian Ahwal dan Maqomat serta tingkatan maqomatnya
2.      Hubungan antara Tasawuf, Filsafat dan Ilmu Kalam.
3.      Hubungan antara tasawuf dengan ilmu jiwa agama yang dilihat dari segi psikologis.


C.     TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu tasawuf, serta untuk memberikan sedikit pengetahuan kepada para pembaca tentang pengertian ahwal dan maqomat dalam tasawuf, hubungan tasawuf dengan filsafat dan ilmu kalam, serta hubungan tasawuf dan ilmu jiwa agama yang dilihat dari sisi psikologi agama.



BAB II. PEMBAHSAN

A.    Kerangka Berfikir Irfani :Dasar-Dasr Falsafi Ahwal Dan Maqomat
Kerangka irfani adalah metode untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku dikalangan sufi. Untuk mencapai irfani tidak dapat dicapai dengan mudahatau secara spontanitas, tetapi melalui proses yang panjang. Proses yang dimaksud adalah maqam-maqam (tingkatan atau stasiun) dan ahwal. Dua persoalan ini harus dilalui oleh orang yang berjalan menuju tuhan. Anwar (2010/198)
1.      Maqam-maqam dalam tasawuf
Maqamat dalam tasawuwuf adalah jalan atau tingkatan yang harus dilalui seseorang untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk mencapai ma’rifat seorang sufi harus melalui tahapan-tahapan berikut:
a)      Tobat
Kebanyakan sufi menjadikan tobat sebagi perhatian awal di jalan menuju Allah SWT. Dalam pembahasab tasawuf, tobat dimaksudkan sebagai maqam pertama yang harus dilalui dan dijalani oleh seorang salik. Dikatakan, Allah SWT tidak mendekati sebelum bertaubat. Karena dengan taobat jiwa seorang salik bersih dari dosa. Tuhan dapat di dekati dengan jiwa yang suci.
b)      Zuhud
Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama (terendah), menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman di akherat. Kedua, menjauhi dunia dengan meninmbang amalan akhirat. Ketiga ( tertinggi), mengucilkan dunia bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta kepada Allah SWT. Orang yang pada tingkat tertinggi ini tidak memandang segala sesuatu kecuali Allah SWT
c)      . fakir
Fakir dapat berarti sebagai kekurangan harta yang diperlukan seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia.
d)     Sabar
Sabar jika dipandang sebagai pengekangan tuntutn nafsu dan amarah, dinamakan Al-Ghazali sebagai kesabaran jiwa, sedangkan menahan terhadap penyakit fisik disebut sebagai sabar badani.
e)      Syukur
Syukur diperlukan karena semua yang kita lakukan dan kita miliki di dunia adalah berkat karunia Allah SWT.
f)       Rela (ridha)
Ridha berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugrahkan Allah SWT.
g)      Tawakkal
Tawakkal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT.



2.      Ahwal dalam tasawuf
Menurut cibad (2011), Ahwal adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hal adalah anugerah dan maqam adalah perolehan. Tidak ada maqam yang tidak dimasuki hal dan tidak ada hal yang terpisah dari maqam.hal juga terdiri dari beberapa macam. Namun, konsep pembagian atau formulasi serta jumlah hal berbeda-beda dikalangan ahli sufi. Diantara macam-macam hal yaitu :
a)      Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya.
b)      Khauf
Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya.
c)      Raja’
raja’ adalah sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambaNya yang saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.
d)     Syauq
Syauq bermakna lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Para ahli sufi menyatakan bahwa syauq merupakan bagian dari mahabbah. Sehingga pengertian syauq dalam tasawuf adalah suasana kejiwaan yang menyertai mahabbah.
      e) Mahabbah
Cinta (mahabbah) adalah pijakan atau dasar bagi kemuliaan hal. Seperti halnya taubat yang menjadi dasar bagi kemuliaan maqam.Al-Junaid menyebut mahabbah sebagai suatu kecenderungan hati. Tokoh utama paham mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah (95 H-185 H). Menurutnya, cinta kepada Allah merupakan cetusan dari perasaan cinta dan rindu yang mendalam kepada Allah.
       f) Tuma’ninah
Secara bahasa tuma’ninah berarti tenang dan tentram. Tidak ada rasa was-was atau khawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi.
h)      Musyahadah
Dalam perspektif tasawuf musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat dengan mata kepala. Hal ini berarti dalam dunia tasawuf seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya.
i)        Yaqin
Al-yaqin berarti perpaduan antara pengetahuan yang luas serta mendalam dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pula sehingga tertanamlah dalam jiwanya perjumpaan secara langsung dengan Tuhannya.
Menurut Nasr (1985/84), tingkatan (hal) adalah seseuatu yang datang dari tuhan kedalam hati seseorang tanpa ia mampu menolaknya. Istilah hal/ ahwal berarti anugerah atau karunia yang di berikan tuhan atas hati hambanNya. Sedangkan istilah maqam berarti jalan pendamba, jalan yang di tempuh untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Dengan kata lain hal dapat disebut sebagai hasil ahir dari sebuah perjalanan maqomat tasawuf.

B.     Hubungan antara Tasawuf, Filsafat dan Ilmu Kalam.
Terdapat titik persamaan dan perbedaan antara Ilmu Kalam Filsafat, dan Tasawuf. Persamaan pencarian segala yang bersifat rahasia (ghaib) yang dianggap sebagai 'kebenaran terjauh' dimana tidak semua orang dapat melakukannya dan dari ketiganya berusaha menemukan apa yang disebut Kebenaran (al-haq). Sedangkan perbedaannya terletak pada cara menemukan kebenarannya. Jadilah (2011)
Perbedaan antara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika (aqliyah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis) dan argumentasi naqliyah yang berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadilah) /dialog keagamaan.Sementara filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mendalam) dan terikat logika.
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang datang dari Tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari subjek sendiri. Hasbi. (2011)
C.     Hubungan Antara Tasawuf Dengan Ilmu Jiwa Agama (Psikologi Agama)
1.      Pengertian ilmu jiwa agama
Menurut yang kami kutip alam blog himpunan mahasiswa PGMI IAIN syekh Nurjati, Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu jiwa agama yakni ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Ilmu psikologi agama adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku, melalui ilmu jiwa dapat diketahui sifat-sifat psikologi yang dimiliki seseorang, jiwa yang bersih dari dosa dan maksiat serta dekat dengan Allah misalnya, akan melahirkan dan sikap yang tenang pula, sebaliknya jiwa yang kotor banyak berbuat kesalahan dan jauh dari Allah akan melahirkan perbuatan yang jahat, sesat dan menyesatkan orang lain. Fatah (2012)
Objek pembahasan psikologi agama adalah gejala- gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.
2.      Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Jiwa Agama (Psikologi Agama)
Tasawuf  dapat dijadikan pijakan jiwa alternative dalam menghadapi problem kehidupan yang semakin kompleks. Setiap orang membutuhkan pijakan dalam hidupnya untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan yang berimplikasi pada psikologi pada orang tersebut. Tasawuf dijadikan pijakan karena tasawuf lebih dekat dengan disiplin ilmu psikologi. Akan tetapi sering kedua kajian tersebut seakan terpisahkan, padahal objek kajian tasawuf, psikologi agama, dan kesehatan mental berurusan dengan soal yang sama, yakni soal jiwa.
Manurut Tamami (2011/79), ketiga kajian itu dapat dinyatakan sebagai berikut : tasawuf berurusan dengan soal penyucian jiwa dengan tujuan agar lebih dekat pada kehadiratNya, psikologi agama beruruan dengan pengaruh ajaran agama terhadap perilaku kejiwaan para pemeluknya, sementara kesehatan mental berurusan dengan soal terhindarnya jiwa dari penyakit kejiwaan, kemampuan adaptasi kejiwaan, dan terciptanya integritas kejiwaan seseorang.
Dapat disipulkan bahwa keterkaitan antara ketiga ilmu tersebut berobjek pada ranah jiwa seseorang. Peranan tasawuf dalam psikologi agama dapat menimbulkan atau menghasilkan perilaku seseorang yang bersifat agamis dan gejala- gejala psikis manusia yang sufiisme. Sedangkan dalam kaitannya dengan ilmu kejiwaan, tasawuf mempunyai peranan sebagai pengontrol jiwa dan kesehatan jiwa manusia.



BAB III. PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tasawuf merupakan jalan menuju ma’rifatullah dengan berbagai macam cara atau tingkatan yang di sebut maqomat tasawuf. Maqomat tasawuf merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mencapai ma’rifat. Maqomat akan menghasilkan sebuah kondisi jiwa yang merupakan tujuan tasawuf  yang disebut hal/ ahwal.
Ilmu tasawuf, ada kaitannya dengan filsafat serta ilmu kalam. Keterkaitan tersebut terdapat pada persamaan objek yaitu mendekatkan diri kepada allah. Namun terdapat perbedaann yaitu pada metodologi. Tasawuf juga berkaitan dengan ilmu jiwa agama, tasawuf dan ilmu jiwa agama mempunyai objek yang sama yaitu pada kondisi jiwa manusia. Peranan tasawuf dalam ilnu jiwa agama (psikologi agama) yaitu berdampak pada perilaku seseorang yang bersifat agamis dan sufiisme.
B.     SARAN
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi  tentang ilmu tasawuf dan hubungan nya dengan filsafat, ilmu kalam dan psikologi agama, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca dapat  memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca  pada umumnya.

3 komentar:

  1. AgenBola855,com | mybet188,com | Agen Taruhan Bola Online Terpercaya
    Promo Bonus Semua Member | Agen Bola | Taruhan Bola | Judi Bola | Judi Online | Agen Casino
    Deposit Mulai Rp50rb, dapat Bonus Beeting dari Agen Bola Terpercaya Anda, Deposit Minimal dengan Bonus? Maksimal? dari Agen Bola Kesayangan Anda
    silahkan register disini,
    agenbola855,com/register | mybet188,com/register
    link bebas nawala disini
    118.139.177.66/~mybet188 | 203.124.99.248/~agen855

    BalasHapus